Elhelwi Ketakutan Bawa Tas Penuh Uang Suap, macam di film-film |

Elhelwi Ketakutan Bawa Tas Penuh Uang Suap, macam di film-film

Perjalanan Elhelwi membawa uang suap Rp 600 juta keliling Jambi ini seperti di film-film.

Elhelwi yang dilanda ketakutan, membawa uang itu dalam tas itu berpindah pindah daerah.

Kisah ini terungkap dalam sidang kasus suap ketok palu RAPBD Provinsi Jambi 2018.

Awalnya Elhelwi dan Supardi Nurzain diterbangkan dari Jakarta ke Jambi dengan pengawalan ketat.

Dua orang yang saat ini berstatus tahanan KPK di Jakarta, menjadi saksi kasus suap ketok palu RAPBD Provinsi Jambi 2018.

Jaksa KPK menghadirkan dua orang itu menjadi saksi untuk terdakwa Joe Fandy Yoesman alias Asiang.

Perlu menjadi catatan, kasus ini juga yang menyeret Zumi Zola, mantan Gubernur Jambi, masuk sel.

Zumi Zola mendapat hukuman 6 tahun dan pidana lainnya.

Elhelwi saat kasus terjadi menjabat anggota DPRD dari Fraksi PDIP, sedangkan Sufardi dari Fraksi Golkar.

Saat sidang kemarin, terungkap alur perjalanan uang suap itu yang sempat ‘keliling kota’.

Saat sidang di Pengadilan Tipikor Jambi, Kamis (17/10), majelis hakim yang diketuai Victor Togi Rumahorbo menanyakan kepada Elhelwi dan Sufardi Nurzain mengapa menerima uang ketok palu.

Elhelwi menjawab bahwa uang ketok palu itu bukanlah hadiah.

“Itu bukan hadiah, Yang Mulia. Ini adalah jatah, harus diterima, namannya rezeki. Tapi saya sudah menyesal,” jawab Elhelwi.

Jawaban yang mirip juga diungkapkan Sufardi.

Bahkan, ia mengakui, seandainya tidak ada OTT KPK di Jambi, uang itu tak akan dikembalikan.

“Kalau tidak ada OTT, pasti uang itu sudah dibagi-bagi, tidak akan dikembalikan (diserahkan) ke KPK,” kata Sufardi.

Kedua mantan anggota dewan ini sudah mengembalikan uang yang mereka terima secara tidak sah itu ke KPK.

Ada cerita menarik tentang Elhelwi yang ketakutan membawa uang.

Dalam kesaksiannya, Elhelwi mengatakan takut saat mendapat adanya kabar Operasi Tangkap Tangan, sebab uang yang diberikan kepadanya untuk Fraksi PDIP belum didistribusikan.

“Saya takut Yang Mulia, takut ditangkap KPK. Uang yang saya terima sudah saya kembalikan ke KPK Januari lalu,” kata Elhelwi.

Hakim bertanya jumlah uang yang dikembalikan ke KPK.

Elhelwi menjawab uang yang diserahkan ke KPK melalui transfer rekening itu sejumlah Rp 900 juta.

Apa guna uang itu?

Uang itu merupakan total jumlah uang ketok palu yang ia terima pada 2016 dan 2017.

Kisah Elhelwi ketakutan

Saat di sidang, Elhelwi mengaku menyimpan uang ketok palu yang diberikan kepadanya selama satu tahun.

Sejak itu pula ia merasa tidak bisa tenang.

“Saya dapat uang Rp 600 juta. Diserahkan malam jam 20.00. Saya kemudian dapat kabar OTT malam besoknya,” ungkapnya.

Seketika ketakutan melandanya, dan terbayang akan dipenjara.

Ia kemudian memilih meninggalkan Jambi.

“Saya langsung berangkat ke Bungo. Saya empat empat hari di sana. Saya ketakutan,” kata Elhelwi.

Setelah dari Bungo, ia meletakkan uang berpindah-pindah karena merasa tak tenang.

“Uangnya saya pindah-pindah, saya taruh kamar saya, saya pindahkan lagi ke kamar lain, lalu pindah-pidahin, Yang Mulia,” ungkap Elhelwi.

Elhelwi juga mengaku tidak berani menghubungi siapapun.

Akhirnya ia mengikuti saran dari penasihat hukumnya.

“Saya sudah kembalikan uangnya Januari 2019. Selama saya terima uang sampai sudah saya serahkan saya tidak tenang yang mulia,” terangnya.

Peran Elhelwi

Elhelwi memiliki peran besar dalam proses terjadinya suap dari eksekutif kepada legislatif, yang bertujuan untuk pengesahan RAPBD jadi APBD Provinsi Jambi 2018.

Satu di antara peran Elhelwi adalah mendesak Saifuddin, yang saat itu Asisten III Setda Provinsi Jambi, agar memberi kejelasan tertulis tentang jumlah dan penyerahan uang ketok palu.

Hakim menanyakan soal pertemuan antara Elhelwi dengan Supriono dan Saifuddin di sebuah hotel berbintang di Jambi.

Pertemuan itu sebelum sidang paripurna pengesahan APBD. Hakim menanya apakah saat itu Elhelwi minta dibuatkan komitmen uang ketok palu secara tertulis.

Elhelwi awalnya mengaku tidak memaksa Saifuddin membuat surat perjanjian memberikan uang ketok palu.

Pengakuannya, saat itu hanya meminta kepastian saja dari Saifuddin.

“Kan waktu sudah mendesak yang mulia. Saya waktu itu tidak berani lama-lama di hotel. Saya cuma lima menit ketemu mereka,” jawab Elhelwi.

“Tapi kamu yang memaksa kan, buat surat pernyataan itu? Pakai pena siapa? Tidak ada pena kan di sana, akhirnya sampai pinjam pena hotel,” desak hakim.

“Iya Yang Mulia, saya menyesal. Saat itu kondisinya mau cepat selesai saja Yang Mulia,” jawab Elhelwi.

Be the first to comment on "Elhelwi Ketakutan Bawa Tas Penuh Uang Suap, macam di film-film"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*